September 03, 2010
Ampunilah dosa-dosa hambaMu ini Ya Allah...
Abu Abdurrahman al-Asadi bertanya kepada Said Bin Abdul Azis, 'Tangisan apa ini yang terdengar ketika engkau sholat?' Said balik bertanya, 'Kenapa Engkau bertanya seperti itu?'Abu Abdurrahman menjawab, 'Wahai saudaraku semoga Allah memberikan hidayah untukku dengan pertanyaan itu.' Said mengatakan, 'Setiap saya sholat selalu membayangkan siksa api neraka bila Allah tidak mengampuni dosa-dosa yang pernah saya lakukan.'
Itulah tanda-tanda orang yang khusyuk dalam sholatnya, Allah berfirman 'Sesungguhnya, beruntunglah mereka yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya (al-Mukminun : 1-2).
Khusyuk di dalam sholat memaksa jatuhnya air mata karena kecintaan dan takut dosanya tidak diampuni oleh Allah serta membayangkan siksa api neraka di depan mata kita disetiap sholat. Sementara ada orang yang sholat hanya mekanistik, tiada sebuah kesadaran. Hanya menggugurkan kewajiban semata, sesungguhnya sholat seperti ini adalah badan yang mati, berbeda dengan orang yang sholat memiliki sebuah kesadaran diri untuk Menangis dan meneteskan air mata memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Ampunilah dosa-dosa hambaMu ini Ya Allah...
Hewan Juga Berpuasa
Begitu besarnya manfaat puasa sehingga bukan hanya manusia yang melakukan puasa, hewan juga melakukan puasa.
Ayam berpuasa ketika mengerami telur, tidak makan dan juga minum. Saat puasa suhu tubuh ayam panas, sehingga telur yang dierami lekas menetas dan melahirkan anak.
Ular Binatang melata ini sesungguhnya terkenal rakus. Mereka [...]
September 02, 2010
Buanglah Dendam anda!
'Dan bagi orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan dzalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan yang serupa maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berbuat dzalim. (QS. asy-Syuura : 39-40).
Bila anda disakiti oleh orang yang anda cintai atau orang lain berarti anda termasuk orang yang diberikan rahmat oleh Allah karena orang yang teraniaya sebenarnya diuji sekaligus diberikan pahala yang besar oleh Allah. Ujian itu memberikan kita pilihan, pertama, kita akan membalas perbuatan mereka atau kita memaafkannya. Bila kita mampu bersabar dan memaafkan maka Allah melimpahkan pahala yang besar sekali.
Memang sulit untuk memaafkan orang yang telah menyakiti hati kita, namun cobalah untuk memaafkan, Insya Allah hati kita menjadi tenteram dan bahagia. Bahkan Allah berkenan mengijabah doa yang kita panjatkan. 'Berhati-hatilah kalian, janganlah menganiaya orang lain karena doa orang yang teraniaya tidak ada lagi penghalang antara dirinya dengan Allah.' (HR. Muslim).
Bila anda sedang disakiti oleh orang lain atau didzalimi maka Allah membukakan pintu terkabulnya doa bagi anda. Maka pergunakanlah kesempatan itu untuk berdoa dan memohon kepada Allah untuk bisa menggapai kemuliaan dan kebahagiaan dalam hidup kita.
Jadi, Buanglah dendam anda!
September 01, 2010
Menggapai Kasih Sayang Allah
Setiap orang selalu ingin tampil cantik atau tampan. Sesederhana apapun kita selalu berusaha tampil indah mempesona, sedap dipandang mata. Namun kecantikan dan ketampanan tidaklah kekal dan abadi. Seiring waktu tubuh kita melemah dan tidak menawan lagi. Hanya kecantikan batinlah yang bisa menjadi abadi. Itulah kecantikan hati.
Kecantikan Hati bisa menjadi milik siapapun. Tidak peduli semenarik apapun dirinya dan sesederhana apapun penampilannya. Bila ada orang yang memiliki hati yang indah akan memancarkan pada wajah, perilaku dan tutur katanya, banyak sekali teman-teman yang datang untuk menghampiri dirinya, sekedar untuk singgah dan mendapatkan kesejukan jiwa. Semua menjadi terasa indah dipandang karena kekuatan keindahannya ada di dalam diri yang memancar keluar. Pancaran keindahan hati yang banyak dicari karena bersumber dari Kasih Sayang Allah.
Apabila bibir kita tersenyum, mampukah hati kita juga tersenyum? Disaat tangan memberi, apakah hati kita dengan tulus untuk berbagi? Jadikanlah hati kita memancarkan keindahan yang melimpahkan senyuman dan kasih sayang bagi sesama, sebab hanya dengan melimpahnya kasih sayang bagi sesama kita bisa menggapai kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
August 31, 2010
Buanglah Perasaan Negatif
Ketika kita sedang dilanda gelisah, marah, benci, risau, dendam, putus asa, sedih kita tidak bisa memendam dalam diri kita sendiri. Apabila tidak tersalurkan akan menjadi 'bisul' bernanah dalam hati kita dan berakibat lebih buruk untuk kesehatan ruhani kita. Sangat dianjurkan untuk curhat dan berdoa. Apabila ada seseorang yang mampu membimbing kita, memberikan pencerahan maka perasaan sedih menjadi terasa lebih ringan. Jika tidak bisa dengan lisan, bisa juga secara tulisan.Misalnya dengan menulis, seperti menulis distatus FB, menulis puisi atau irama lagu. Menulislah untuk menumpahkan isi hati. Atau dengan cara yang paling mudah anda bisa lakukan. Tentunya banyak cara yang bisa dilakukan. Jangan biarkan perasaan duka merusak jiwa kita.
Berdoa merupakan bentuk curhat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang paling efektif untuk membuang perasaan negatif dan mengubahnya menjadi perasaan yang positif. Kita bisa mencoba menguraikan perasaan sedih, ketidak berdayaan, kekecewaan, harapan, keinginan maka perasaan kita bisa menjadi lebih ringan. Itulah sebabnya berdoa sangat membantu kita. Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak akan membiarkan hambaNya berjalan dalam kesendirian. Allah Menyayangi dan menunjukkan solusi yang terbaik untuk kita.
Bila anda telah merasa lega, jika beban dihati sudah terangkat, jika kesedihan anda telah berkurang, ucapkan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala karena hanya Allahlah yang memberikan kesedihan dan hanya Allahlah yang mampu mengangkat kesedihan itu dari hati anda. Bersyukurlah dan jangan sampai kembali melupakan Allah. Ingatlah, disaat sedih kita berdoa sepanjang hari agar kesedihan segera diangkat tetapi jika Allah telah mengangkat kesedihan itu janganlah menjadi lalai dan melupakan Allah.
'Dan mereka berkata, 'Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.' (QS. Faathir : 34).
Ya Allah, Hindarkanlah Aku Dari Su'ul Khatimah (Kematian Yang Buruk).
Setiap kali setelah selesai sholat, terkadang meneteskan air mata tidak terasa. Ada yang yang bertanya, 'kenapa menangis?' 'untuk apa menangis?' Entah kenapa rasanya tidak bisa dijelaskan kenapa kita harus menangis dan menangis untuk apa terus menangisi siapa. Hanya teringat bahwa al-Quran mengajarkan kita satu doa agar terhindar dari su'ul khatimah atau kematian yang buruk.'Rabbana la tuzig qulubana ba'da idz hadaitana wahablana min ladunka rahmah, innaka antal wahab' 'Ya Allah, janganlah Engkau gelincirkan hati kami setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, anugerahkanlah kepada kami kasih sayangMu, Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi anugerah.'
Menangis memohon ampun agar Allah berkenan menjadikan ujung hidup kita ini dengan kebaikan bukan 'su'ul khatimah' (Kematian yang buruk). Ciri-ciri su'ul khatimah adalah mengalami bencana setelah mendapatkan anugerah, mengalami kehinaan setelah kemuliaan, mengalami kemalangan setelah keberuntungan. Di dalam al-Quran, Allah berfirman.
'Allah berikan perumpamaan satu negeri yang aman tenteram dan damai, rizkinya datang melimpah dari setiap penjuru lalu penduduk itu ingkar kepada nikmat Allah dan Allah menimpakan kepada mereka kelaparan dan ketakutan karena apa yang telah mereka lakukan. (QS. an-Nahl : 112).
Begitulah gambaran negeri yang memperoleh su'ul khatimah adalah negeri yang semula makmur, memperoleh rizki dari berbagai penjuru tetapi karena ingkar kepada Allah, mereka memperoleh bencana demi bencana. Dalam ciri yang lain adalah mengalami kedurhakaan setelah memperoleh ketaqwaan. Orang yang masa mudanya sangat taat menjalankan ibadah, banyak melakukan amal shaleh tetapi diujung hidupnya mengalir kekayaan dan kemakmuran namun malah membuat dirinya ingkar kepada Allah diakhir hidupnya justru tergelincir mengalami Su'ul Khatimah (Kematian yang buruk).
banyak kisah orang yang sholeh, akhlaknya baik dan ahli ibadah justru mengakhiri hidupnya sebagai orang yang ingkar kepada Allah. Sudah sepatutnya kita menangis, merendahkan diri dihadapan Allah dan memohon ampun kepadaNya agar kita diberi husnul khatimah (Kematian Yang Baik), akhir yang baik dalam hidup kita. Setiap air mata yang menetes dalam memanjatkan doa supaya Allah Subhanahu Wa Ta'ala meneguhkan langkah-langkah kita di jalan yang benar. Amin.
Sudahkan kita menangis?
August 29, 2010
Manfaat Bersyukur
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. ar-Rahman : 26). Allah mengingatkan kita bahwa orang yang hidupnya mencari kebahagiaan sesungguhnya orang yang tidak bahagia karena kebahagiaan itu adalah anugerah Allah yang setiap hari melimpah datang dalam hidup kita. Terkadang kita hanya perpikir apa yang hilang dan apa yang tidak ada dalam hidup kita. Cobalah berpikir apa yang ada pada diri kita maka kita ada banyak anugerah Allah yang kita bisa syukuri. Bukankah hidup ini akan menjadi lebih indah apabila kita mensyukurinya?
Jika kita mampu bersyukur dalam segala kondisi dan keadaan maka banyak manfaat kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Diantaranya adalah.
Pertama, Mengucapkan puji syukur 'alhamdulillah' membuat tubuh dan jiwa kita menjadi kuat karena ucapan puji syukur 'alhamdulillah' adalah cermin sikap kita untuk rela menerima apapun keadaan yang Allah berikan kepada kita untuk membentuk dan mendewasakan diri kita. Sebagaimana Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Salam harus menghadapi cercaan dan makian orang-orang yang menentang beliau. Kekuatan dan keteguhan hati Nabi Muhammad yang membuatnya mampu melewati semua ujian dan cobaan dengan senantiasa mengucap puji syukur kehadirat Allah.
Kedua, Mengucapkan puji syukur 'alhamdulillah' akan mudah kita untuk memaafkan. Mengucapkan puji syukur kehadirat Allah membuat cara pandang kita terhadap orang yang menyakiti, melukai atau mengkhianati kita dengan cara pandang kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Ketiga, Mengucap puji syukur 'alhamdulillah' adalah kemampuan kita membuang energi negatif di dalam diri kita dan dengan izin Allah menggantikannya dengan energi positif di dalam diri kita. Segala perasaan buruk, penyakit hati seperti marah, dengki, kecewa, dendam yang tersimpan di dalam diri kita yang harus kita buang. Membuang energi negatif bukan dengan cara menekan atau seolah merasakan tidak terjadi apapun. Membuang energi negatif di dalam diri kita adalah dengan senantiasa mengucapkan 'alhamdulillah' puji syukur kehadirat Allah berarti sebuah permohonan agar Allah berkenan mengubah energi negatif di dalam tubuh kita menjadi energi positif, yang buruk menjadi baik, yang benci menjadi cinta dan yang hina menjadi mulia.
Yuk, bersyukur...!
August 28, 2010
Petunjuk Allah
Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan petunjuk kepada manusia melalui berbagai saluran. Pertama dan tertinggi adalah wahyu, dalam hal ini bagi seorang Muslim adalah Al Qur'an dan kemudian dijelaskan oleh hadis Nabi. Al Qur'an adalah petunjuk bagi orang yang percaya (Q/2:97), petunjuk bagi orang yang patuh dan takwa, hudan lil muttaqin (Q/2;2).Bagi orang yang tidak percaya, al Qur'an tak berfungsi apa-apa (Q/2;6). Petunjuk Allah juga disampaikan melalui sunnatullah (hukum alam) pada alam semesta dan pada sejarah manusia, karena sunnatullah itu konsisten bagaikan hukum besi yang tak bisa ditawar dan diganti. (Q/35:43). Oleh karena itu orang yang pandai menangkap fenomena alam dan sejarah, yang mau belajar kepada alam dan sejarah manusia, ia bisa menjadi cerdas, bukan saja bisa menerangkan makna kejadian, tetapi juga mampu memprediksinya.
Dalam perspektif inilah maka sepanjang sejarah kemanusiaan selalu saja muncul orang bijak dengan kata-kata mutiaranya, muncul hukama dengan kata-kata hikmahnya. Hikmah itu sendiri kata Nabi bagaikan mutiara yang tercecer, yang bisa ditemukan entah oleh siapa saja (al hikmatudlallat al mu'min anna wajadaha), oleh karena itu kapanpun orang menemukannya, hendaknya cepat pungut, meski mutiara itu berada di lumpur. (khuz al hikmat walau min ayyi wi`a'in kharajat).
dan barang siapa beruntung dapat memungut hikmah, maka kata al Qur'an, sungguh ia bagaikan menemukan "durian runtuh" yang tak ternilai harganya (waman yu'ta al hikmata faqad utiya khairan katsiran (Q/2:269). Ali bin Abi Thalib pernah berkata; Perhatikan apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang berbicara (undzur ma qala wala tandzur man qala).
Semangat Tadarus
Malam ini di Rumah Amalia sehabis sholat tarawih kami bertadarus. Tadarus merupakan kegiatan yang membawa keteduhan hati. Nampak anak-anak Amalia dengan senyum khasnya. Atun, Lusi, Mitha, Riska, Dwi, Ratih, Eko, Biyan dan anak-anak Amalia lainnya sudah siap dengan al-Qur'annya. Lantunan ayat suci al-Quran dibaca silih berganti. Itulah yang membuat kami menjadi terasa bahagia.Sekarang ini jarang sekali menjumpai orang-orang bertadarus. Jika ada yang bertadarus hanyalah orang tua. Anak-anak muda agak sulit saya jumpai bertadarus. Mungkin kondisi sekarang memang sedikit berbeda. Zaman telah berubah. Terkadang membuat hati menjadi miris. Bila membaca al-quran sudah tidak lagi diminati oleh anak-anak muda. Tadarus diwaktu saya masih sekolah Tsanawiyah suka sekali mengaji dimasjid bersama-sama teman-teman. Kami berkelompok membaca al-quran, terkadang sampai pagi, sehabis sholat subuh kami melanjutkannya dengan berdiskusi menelaah setiap ayat yang kami baca. Kebiasan untuk bertadarus menjadikan keindahan tersendiri. Apa lagi sejak keberadaan Hana tadarus sebelum tidur tidak bisa kami tinggalkan.
Di Rumah Amalia, kami membiasakan anak-anak Amalia agar menghapal Juz Amma' surat-surat pendek. Kami membaca bersama-sama. Membiasakan anak-anak membaca al-quran sebagai upaya agar sedini mungkin anak-anak mencintai al-quran, membaca ayat-ayat suci sekaligus menggali maknanya. Untuk menumbuhkan rasa kecintaan terhadap al-quran tidak bisa sendirian, haruslah terbangun kondisi yang dilakukan secara terus menerus agar terbentuk pembiasaan yang menyenangkan. Sebab tadarus selain dimaknai dengan membaca al-quran namun juga mengkaji dan menelaah.
Maka alangkah indahnya bila semangat tadarus adalah semangat menjadikan al-quran sebagai bacaan kita setiap muslim melalui gerak hati dengan nafasnya dalam setiap langkah kegiatan kita dalam kehidupan sehari-hari untuk senantiasa menyebarkan cinta dan kasih sayang bagi sesama.
August 27, 2010
Rizki Allah
Imam Ja'far mengatakan,'Tenanglah dengan rizki Allah, Allah lebih menyayangi hambaNya dan tidak akan melupakanNya.'
Kemudian laki-laki itu kembali ke Kufah. Menyewa sebuah tempat untuk berjualan dan duduk didalamnya. Beberapa waktu kemudian datanglah seseorang yang berkata kepadanya. 'aku punya barang dagangan yang baik, maukah kau membelinya?' Laki-laki itu menjawab,'Kalo aku punya uang, aku akan membelinya.' 'Ambillah barang dagangan ini dan pajanglah. Kapanpun laku ambillah keuntungan dan bayarkan kepadaku sesuai harga barang dagangan ini.'
Laki-laki itu setuju dan memajang barang dagangannya. Dalam waktu singkat datang beberapa orang tertarik untuk membelinya. Sampai barang itu habis terjual. Beberapa hari kemudian Pemilik barang dagangan itu datang, laki-laki itu membayar semua barang dagangan yang terjual. Laki-laki itu mendapatkan rizki dari Allah untuk memenuhi kebutuhannya, Keadaannya semakin baik sesuai harapannya. Menggantungkan harapan hanya kepada Allah untuk mendapatkan limpahan rizki. Allah telah memberikannya rizki yang tidak terduga. Subhanallah.
'Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki.' (QS. Ar-Ruum : 40).
Rasa Malu
Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Salam mengingatkan kepada kita bahwa cabang iman adalah iman kepada Allah dan salah satu cabang iman adalah al-haya' atau rasa malu. Malu merupakan bagian dari kemuliaan pada diri seorang Muslim. 'Setiap agama memiliki etika dan etika Islam adalah rasa malu .'(HR. Ibnu Majah).hadist diatas menyiratkan bahwa rasa malu merupakan penyempurnaan akhlaq. Itulah sebabnya Nabi diutus dimuka bumi untuk menyempurnakan akhlaq. Menurut pendapat Ibnu Qayyim kata al-Haya'u berarti malu sekaligus berasal dari kata al-haya' artinya kehidupan.
Rasa malu berarti dimaknai sebagai perangai yang dapat menolong kita meninggalkan hal-hal yang buruk, mencegah diri kita dari kemungkaran. Rasa malu juga membatasi diri kita karena takut kepada keburukan dan berhati-hati terhadap diri sendiri agar kita tidak mencemooh atau mengejek orang lain.
Rasa malu yang tercela adalah malu untuk belajar dan malu untuk memperbaiki diri. Imam Bukhari menyebutkan, 'Orang malu yang sombong tidak pernah mau menuntut ilmu dan tidak mendapatkan hidayah Allah.' Sedangkan malu yang memiliki kemuliaan adalah malu dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Beruntunglah kita masih memiliki malu untuk selalu bersujud dan menundukkan kepala dihadapan Allah yang senantiasa memohon dan berharap mendapatkan hidayahNya.
Bulan Pernah Terbelah
Dari hadist Rosulullah Muhammad saw mengenai fakta bahwa bulan pernah terbelah disebutkan :
Telah menceritakan kepada kami [’Abdan] dari [Abu Hamzah] dari [Al A’masy] dari [Ibrahim] dari [Abu Ma’mar] dari [Abdullah] radliallahu ‘anhu berkata; Bulan terbelah saat kami sedang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Mina, lalu beliau bersabda: "Saksikanlah". Kemudian sekelompok orang pergi ke atas [...]
August 25, 2010
Ketika Hati Terusik
Orang tua yang mempunyai anak belum menikah meski sudah berpenghasilan sendiri merasa belum hidup bahagia dan belum rela mati meninggalkan anak-anaknya yang belum berkeluarga. Keluarga merasa malu jika ada anggota keluarga yang tidak menikah. Begitu juga jika dalam perkawinan anak-anaknya terjadi perceraian atau perpisahan mereka merasa malu dengan tetangga ataupun sanak famili.
Anggapan masyarakat pada umumnya bahwa setiap orang harus menjadi bagian dari satu pasangan agar menjadi bahagia. Apabila ada salah seorang anak dalam keluarga menikah dengan seseorang yang terpandang, kaya raya, terpelajar, keturunan darah biru, dengan berbagai kelebihannya maka harga diri dan harkat martabat keluarga menjadi terangkat namun sebaliknya jika anak dalam keluarga menikah dengan orang yang dianggap rendah maka keluarga itu merasa dipermalukan dan jatuh. Dengan segala upaya orang tua ataupun pihak keluarga akan menghalangi atau menolak karena perkawinan itu dianggap tidak seimbang atau sekelas.
Demikian pula banyak yang merasa belum menjadi insan seutuhnya tanpa adanya partner ataupun pasangan hidup. Bahkan mereka menjadi insan yang gagal apabila tidak mendapatkan jodoh atau perkawinan tidak berjalan sebagaimana semestinya. Pandangan ini tentu saja tidaklah sepenuhnya benar. Dalam masyarakat modern dimana kesibukan begitu menyita waktu kita, bahkan seorang perempuan yang bekerja dan berpenghasilan sendiri tanpa seorang partner merupakan pemandangan yang biasa. Namun disisi lain pandangan umum masyarakat kita dari dulu hingga sekarang, masih memandang dan mengharapkan perkawinan atau hidup berpasangan sebagai kehidupan yang paling sempurna dan kegagalan ataupun kesendirian dianggap 'aib' yang harus dijauhi.
Bila kita mengalami hal itu, masih dalam kesendirian atau mengalami kegagalan dalam perkawinan, tidak usah terlalu risau dan juga bukanlah aib yang harus dijauhi. Yang paling penting dekatkanlah diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan penyerahan hati secara total maka membuat hati anda menjadi lebih tenang, Allah tidak akan membiarkan anda berjalan sendirian dalam kesepian.
'Apa yang disisimu akan lenyap dan apa yang disisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.' (QS. an
August 24, 2010
Pentas Kehidupan
Teringat lagu Achmad Albar, 'hidup ini panggung sandiwara,' maka memang sudah sepatutnya bagi kita untuk memilih peran yang baik, mudah dan membahagiakan. Meskipun semua peran dalam hidup kita selalu miliki manfaat, sepatutnya kita dapat memilih peran yang terbaik dan terhebat. Peran terbaik dan terhebat bukan pada jenis pekerjaan dan profesi seseorang melainkan profesi dan pekerjaan apapun, bila kita kerjakan dengan kesungguhan hati dan ketulusan akan menghasilkan karakter pada diri kita yang hebat. Kehebatan peran juga tidak terletak pada banyaknya pujian dan decak kagum dari orang lain. Yang paling mendasar dalam menjalankan peran adalah totalitas dalam memenuhi semua aturan main yang telah ditetapkan oleh Sang Sutradara Kehidupan.
Untuk memulai menjalani peran yang baik kita harus mampu meyeleksi dan mengaudisi diri sendiri, manakah yang layak untuk kita kerjakan atau tidak layak kita kerjakan. Hati kita merupakan medan pertempuran antara hawa nafsu dan nurani. Bila hawa nafsu yang menang maka seluruh peran yang kita lakoni tidak mengindahkan norma dan aturan. Namun bila nurani mampu mengalahkan hawa nafsu maka peran kita menjadi indah dan bermanfaat bagi orang-orang disekeliling kita.
'Katakanlah, 'Hai hamba-hambaKu yang beriman, bertaqwalah kepada Tuhanmu' orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapatkan kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tiada batas.' (QS. Az-Zumar : 10).
August 23, 2010
Hati Yang Bersahaja
Sampailah suaminya jatuh sakit selama bertahun-tahun, menurut dokter ia menderita sakit paru-paru. 'Kami sudah berusaha dengan perawatan medis namun keputusan akhirnya tetaplah di tangan Allah.' tutur beliau. Sampai kemudian suaminya meninggal dunia, meninggalkan dirinya dan empat orang anaknya. Rasa sedih, kedukaan, khawatir menatap masa depan yang nampak buram. Dirinya benar-benar tidak bisa menerima kenyataan bahwa orang yang menjadi sandaran hidupnya, yang sangat dicintainya telah diambil oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Meninggalkan keluarga untuk selamanya.
'Mengapa kebahagiaan itu begitu singkat?' 'Hanya dua puluh tahun kami bersama. Dimanakah letak keadilan Allah?' 'Apakah Allah tidak menghendaki kebahagiaan bagi hambaNya?' ucap beliau lirih, suaranya parau. Dirinya dan anak-anak meratapi kepergian suami tercinta. Dasar keimanan dan adanya kesadaran bahwa setiap manusia akan kembali kepada Allah membuat dirinya dan anak-anaknya menjadi kuat dan tabah, tidak membuatnya menjadi depresi ataupun marah kepada Allah.
Dengan uang pensiun yang tidak seberapa beliau berusaha mempertahankan hidup, karena tidak adanya kepandaian dan ketrampilan khusus yang dimilikinya maka yang ditumpuhnya membuat makanan kecil, gorengan yang dititipkan ke warung-warung kecil disekitar tempat tinggalnya. Melihat kehidupannya yang menderita ada saja yang menaruh kasihan dan bersedia menjadi suami sekaligus bapak bagi anak-anaknya. Namun semua itu ditolaknya. Beliau tetap bertahan dalam kesendiriannya demi membesarkan anak-anak yang dicintainya. Setiap pagi selesai sholat subuh kemudian belanja ke pasar, terus membuat gorengan. terkadang juga menerima cucian baju tetangga. Seperti itulah aktifitasnya setiap hari.
Setelah menamatkan SMA ketiga anaknya langsung bekerja. Mereka membantu menyekolahkan adiknya yang bontot. Bahkan anaknya yang pertama bertekad tidak akan menikah sebelum adiknya menyelesaikan sekolahnya. Ia menepati janjinya. sampai adiknya selesai kuliahnya, kakaknya baru menikah. Harapannya adalah anak-anaknya semua sehat walfiat serta dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Doa Sang Ibu dikabulkan oleh Allah seperti yang diharapkan, anak-anaknya mendapatkan jodoh yang sholeh dan sholehah, hidup berkeluarga dengan baik bahkan sudah memiliki rumah tinggal sendiri.
'Mas Agus, saya bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa ta'ala karena mereka menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah, memperoleh pekerjaan yang bisa menghidupi keluarga masing-masing. Seperti doa yang saya panjatkan kepada Allah setiap malam setelah sholat tahajud.' Tutur beliau, seorang Ibu dengan hati yang bersahaja telah menghantarkan anak-anak menjadi 'orang' yang selalu di jalan Allah Subhanahu Wa ta'ala.
Air Mata Abdullah Bin Rawahah
Abdullah Bin Rawahah berkata, 'saya sudah tahu bahwa saya akan melintasi neraka tetapi saya tidak tahu apakah saya akan selamat atau tidak. karena turun satu ayat kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Salam dari Allah, yang memberitahukan bahwa saya akan melintasi neraka tetapi tidak ada berita, apakah saya selamat atau tidak.'
Ayat yang dimaksud Abdullah Bin Rawahah adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 'Dan tidak ada seorangpun dari padamu melainkan mendatangi neraka itu' (QS. Maryam : 71).
Teman yang berbahagia, Abdullah Bin Rawahah adalah salah satu dari sahabat Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Salam dari kaum Anshar, air matanya senantiasa menetes disetiap malamnya untuk memohon ampun kepada Allah karena takut tidak selamat melintasi neraka. Lantas bagaimana dengan kita? Mampukah kita menangis malam ini untuk memohon ampun kepada Allah?
Peluang Bisnis Online
Ebay.com dan Amazon.com adalah salah 2 dari banyak sekali website yang melakukan penjualan via online. Dengan mendaftar secara gratis, siapapun bisa menjadi anggotanya. Jika sudah menjadi anggota, kta bisa melakukan aktivitas jual dan beli dengan jutaan pengunjung dari seluruh dunia setiap harinya. Ini artinya, peluang untuk mendapatkan keuntungan cukup besar.
Jika kita belum mempunyai barang [...]
August 22, 2010
Penderitaan Sebagai Penyembuh Penyakit Hati
Banyak orang yang merasa dirinya hebat atau merasa mendapatkan apapun dalam hidupnya. Dia merasa sudah paling hebat karena status sosial, jabatan, kekayaan, wajah yang sempurna, kesehatan, pasangan hidup. Jika tergambar kesempurnaan seperti itu tidak pernah ditimpa penderitaan maka membuat dirinya menjadi angkuh, sombong dan merasa tidak membutuhkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
'Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri.' (QS. Luqman : 18).
Untuk itulah Allah sengaja sedikit memutar roda kehidupannya. Mungkin seseorang yang telah berada di atas akan diputar hingga berada di bawah. Semua ini bukan dimaksudkan untuk menjatuhkan kita melainkan menyembuhkan hati kita yang mulai sombong agar menyadari bahwa semua yang dimilikinya itu milik Allah, bahwa semua keduniawiannya itu bersifat sementara.
Terlihatlah bahwa Allah bersifat sangat Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada hamba-hamba yang dikasihiNya. Dengan diberi masalah dan penderitaan, sebenarnya Allah ingin memperbaiki diri kita, ingin melindungi hati kita agar tidak dicemari oleh penyakit-penyakit hati yang dapat mengikis iman maupun taqwa kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
'Tidak ada satu musibah itu datangnya yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.' (QS. at-Taghaabun : 11).
August 21, 2010
Air Mata Untuk Adek
Ketika saya dalam sujud sholat tarawih malam ini, air mata mengalir begitu saja. Saya teringat wajah lucu seorang anak, saya suka memanggilnya 'Adek'. Beberapa tahun lalu saya mengenal, wajahnya lucu, ayah meninggal karena kecelakaan. Adek suka bertanya pada saya, 'Kak Agus benarkah ayah pergi ke surga?' Saya menjawabnya dengan mengangguk. 'Adek juga ingin ke surga,' kata Adek berlari meninggalkan saya.Hidup ini terkadang memang getir. Tidak saja kebahagiaan menghampiri, kedukaan dilewati begitu saja. Memaksakan diri untuk tidak merasakan apapun. Semakin ditekan sebuah perasaan, terasa semakin perih menyesak di dalam dada.
Adek enam bulan kemudian pergi ke surga menyusul ayahnya karena sakit DBD. Nyawanya tak tertolong, saya ikut mensholatkan dan juga ikut mengantarkan. Wajah Adek masih terbayang, hati bagaikan teriris. Air mata tak henti mengalir. 'Ya Allah, terimalah Adek sisiMu..' doa yang saya panjatkan untuknya waktu itu.
Malam ini dalam sujud sholat tarawih entah kenapa wajahmu muncul dengan senyuman yang khas kekanak-kanakannya. Seolah mengabarkan bahwa dirinya telah berada di surga. Saya membacakan surat al-fatehah untuk Adek. Sementara itu air mata itu mengalir begitu saja membasahi pipi.